Demi  Bersekolah, Siswa SD di Lampung Selatan Melintasi  Jembatan Bambu Reyot Rusak Parah

by -2415 Views
Siswa SD warga Dusun 8 Sukajadi, Desa Bandar Dalam, Kecamatan Sidomulyo, Lampung Selatan, dengan memegang kawat seling dan tanpa menggunakan alas kaki berjalan melewati jembatan gantung bambu reyot menyeberangi sungai. (Foto: Agung Jalu Prasetyo)

LAMPUNGSELATAN—Siswa sekolah dasar (SD) di Kabupaten Lampung Selatan, harus menempuh jalan terjal menyeberangi sungai melewati jembatan gantung bambu yang kondisinya sudah rusak parah demi untuk bisa sampai ke sekolah.

Mereka, harus ekstra hati-hati setiap harinya melewati jembatan gantung agar bisa sampai ke sekolah untuk mengenyam pendidikan meraih cita-cita mengejar masa depan. Sudah beberapa tahun belakangan ini, para siswa SD melintasi jembatan gantung bambu reyot diatas sungai tersebut.

Pantauan lampungterkini.id  dilokasi, Selasa (29/11/2022) siang, jembatan gantung Umbul Kadu sepanjang 42 meter dan lebar 1,5 meter dengan ketinggian sekitar 15 meter dari permukaan sungai ini berada di lingkungan RT 02 Dusun 8 Sukajadi, Desa Bandar Dalam, Kecamatan Sidomulyo, Kabupaten Lampung Selatan.

Jembatan gantung terbuat dari kawat seling dengan lantai bambu ini, kondisinya memprihatinkan. Selain itu, bilah bambu yang digunakan sebagai pijakan kaki sudah lapuk, reot dan banyak yang hilang serta beberapa besi penyangga bagian bawah patah dan kondisinya  juga sudah miring.

Dari informasi papan pengumuman yang dipasang tepat diatas jembatan, bahwa jembatan gantung ini dibuat pada tahun 2017 silam.

Diketahui, pembuatan jembatan gantung sepanjang 42 meter dan lebar 1,5 meter ini, didukung pendanaannya oleh mantan Gubernur Lampung, M. Ridho Ficardo secara pribadi yang menggerakkan program 1.000 jembatan dari Lampung untuk Indonesia bersama relawan Vertical Rescue Indonesia (VRI), Pramuka Peduli dan warga secara bergotong-royong.

Dilokasi, tampak terlihat sejumlah anak siswa SD pulang dari sekolah berjalan bergantian melewati jembatan gantung menyeberangi sungai, dengan tangan-tangan kecil memegang erat kawat seling. Ada juga yang melewati jembatan, tanpa menggunakan alas kaki demi kenyamanan.

Mereka harus berhati-hati, apalagi saat menapakkan kaki diatas kawat dan bilah bambu sudah lapuk, reot dan banyak yang hilang serta besi penyangga bagian bawah juga patah. Sehingga kondisi jembatan selalu bergoyang, dan membuat keseimbangan terganggu.

Tidak ada pilihan, karena jembatan gantung ini merupakan akses utama dan satu-satunya akses terdekat bagi para pelajar SD warga setempat untuk bisa sampai ke sekolah.

Warga berharap, segera adanya perbaikan agar para siswa SD tidak merasa was-was saat melintas diatas jembatan gantung yang terbuat dari kawat seling dengan lantai bambu kondisinya sudah lapuk, reot dan sangat memprihatinkan.

(Foto: Agung Jalu Prasetyo)

Hanun, salah satu siswi saat ditemui lampungterkini.id dilokasi mengatakan, setiap hari atau sejak duduk dibangku kelas 3 SD, Ia bersama teman-teman lainnya warga RT 02 Dusun 8 Sukajadi melewati jembatan gantung berbahaya ini.

Ia juga mengaku merasa khawatir, namun harus bagaimana lagi karena tidak ada pilihan lain dan hanya jalur inilah akses utama yang cepat bisa sampai ke sekolah.

“Terkadang takut juga sih, tapi ya mau gimana lagi. Harapannya, cepet dibenerin itu aja supaya kami tidak takut melewatinya apalagi saat banjir datang,”ucap siswi kelas 6 SDN 1 Bandar Dalam ini sembari tersenyum, Selasa (29/11/2022).

Hal senada juga dikatakan beberapa siswa kelas 3 dan 4 SD lainnya kepada lampungterkini.id dilokasi.

“Tolong segera diperbaiki, kami takut jatuh dan kecemplung di sungai,”ucap anak-anak siswa SD ini usai melewati jembatan gantung tersebut.

Seorang ibu warga Dusun 8 Sukajadi, Desa Bandar Dalam, Kecamatan Sidomulyo, Lampung Selatan menjemput anaknya pulang dari sekolah melalui jalur bawah melintasi sungai. (Foto: Agung Jalu Prasetyo)

Sementara seorang ibu warga setempat yang menjemput anaknya pulang dari sekolah mengaku, tidak berani lewat jembatan gantung. Ia lebih memilih melalui jalur bawah melintasi sungai.

Dikatakannya, selain kondisi jembatan sudah miring, bambu pijakan kaki banyak sudah lapuk dan patah bahkan hilang. Selain itu juga, besi bagian bawah ada yang sudah patah.

“Nggak berani kalau lewat jembatan gantung, takut kecemplung di sungai yang dibawahnya banyak batu-batu. Makanya saya memilih lewat bawah saja melintasi sungai, kalau pas banjir terpaksa memutar jalan lain meski jauh,”kata dia.

Warga setempat lainnya, Nazaruddin (45) mengatakan, sudah beberapa tahun lalu jembatan gantung Umbul Kadu di lingkungan RT 02 Dusun 8 Sukajadi, Desa Bandar Dalam ini dibuat.

“Jembatan gantung ini, akses utama anak-anak warga disini berangkat dan pulang sekolah serta warga yang hendak ke kebun dan membawa hasil bumi,”kata dia kepada lampungterkini.id.

Menurutnya, jembatan gantung ini dibangun atas inisiatif dari Kepala Sekolah SDN yang saat itu bertugas di desa kami (Bandar Dalam).

Sebelum ada jembatan gantung ini, kata Nazarudin, anak-anak sekolah terpaksa harus memutar lumayan jauh yang jaraknya memerlukan waktu sekitar 15-20 menit. Apalagi saat terjadi banjir, pastinya tidak bisa dilewati hingga beberapa hari.

“Memang ada jalan lain, tapi jaraknya lumayan jauh. Untung saja ada jembatan gantung ini, meski kondisinya sudah tidak layak dilewati lagi tapi jarak tempuhnya anak-anak sampai ke sekolah lebih dekat,”pungkasnya.

Besi penyangga bagian bawah jembatan, kondisinya sudah patah. (Foto: Agung Jalu Prasetyo)

Kepala Desa Bandar Dalam, Suyadi menuturkan, sudah melihat kondisi jembatan gantung Umbul Kadu tersebut yang kondisinya memang harus segera diperbaiki. Selain itu, Ia juga sudah meminta kepada pamong setempat dan warga, apa saja (bahan) yang dibutuhkan untuk perbaikan jembatan gantung tersebut.

“Sudah kita bahas bersama, rencananya Rabu besok mulai dilakukan perbaikan secara gotog-royong bersama warga. Kalau tidak segera diperbaiki, kasihan sama anak-anak sekolah kalau dipaksakan harus lewat jembatan yang kondisinya sudah rusak,”kata dia kepada lampungterkini.id.

Kades Suyadi membenarkan, jembatan gantung Umbul Kadu sepanjang 42 meter dan lebar 1,5 meter ini, dibuat oleh mantan Gubernur Lampung, M. Ridho Ficardo tahun 2017 lalu melaui programnya 1.000 jembatan dari Lampung untuk Indonesia bersama relawan Vertical Rescue Indonesia (VRI), Pramuka Peduli dan warga secara bergotong-royong.

“Adanya jembatan gantung ini, tentunya memberikan manfaat langsung ke warga terutama anak-anak sekolah. Mereka (siswa), tidak lagi harus memutar jauh untuk sampai di sekolah SDN 1 Bandar Dalam,”tandasnya. (Jalu/Red)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

No More Posts Available.

No more pages to load.