Meski Lulusan SMP, Warga Lamsel Ini “Cuan” Ratusan Juta Budidaya Ikan Patin

by -362 views
Rudiyanto alias Rudi (28), warga Desa Margodadi, Kecamatan Jati Agung, Lampung Selatan sukses budidya ikan patin dan cuan ratusan juta.

LAMPUNG SELATAN Melakoni usaha budidaya ikan konsumsi, memang tidak pernah ada matinya. Itu artinya, permintaan ikan di pasaran tinggi. Hal inilah membuat Rudiyanto alias Rudi (28), warga Desa Margodadi, Kecamatan Jati Agung, Lampung Selatan, Lampung yang hanya mengenyam pendidikan SMP ini meraup “Cuan” (untung) ratusan juta rupiah dari budidaya pembesaran ikan patin yang ditekuninya.

Ikan patin atau dalam bahasa ilmiah pangasius, merupakan salah satu jenis ikan konsumsi yang sudah banyak dikenal masyarakat. Jenis ikan air tawar satu ini, merupakan salah satu ikan yang berkembang dengan cepat. Sehingga budidaya ikan patin, menjadi salah satu pilihan alternatif bisnis yang menjanjikan.

Siang itu, keadaan cuaca terlihat begitu cerah, lampungterkini. Id mendatangi lokasi kolam Rudiyanto yang berada di Dusun Trisakti, Desa Karang Rejo, Kecamatan Jati Agung, Lampung Selatan.

Lokasi itu, berada jauh dari tempat tinggal Rudi dan harus menempuh jarak puluhan kilo serta melewati medan jalan yang rusak untuk sampai ke lokasi.

Dilahan seluas 2 hektar, ada 19 kolam berukuran bervaritif yang digunakan Rudi untuk budidaya pembesaran ikan patin.

Tampak terlihat, beberapa orang lelaki dewasa, sedang sibuk memanen ikan di salah satu kolam berukuran besar. Selain itu, di sudut kolam tampak berdiri dua pondokan berkontruksi kayu dan bambu dengan atap asbes.

Selain itu, pemandangan persawahan dan kebun sawit berada tidak jauh dari disekitar kolam. Sehingga menambah deretan keindahan dan menjadi salah satu view menarik disekitar lokasi kolam.

Rudiyanto atau yang akrab disapa Rudi ini mengaku, mulai menekuni usaha budidaya ikan air tawar jenis ikan patin ini pada akhir tahun 2019 lalu, dengan modal awal Rp 20 juta untuk dua kolam ikan ukuran 15 meter x 20 meter pada saat itu.

“Budidaya ikan patin memiliki peluang yang bagus, dan bisa mendatangkan keuntungan besar apabila dikerjakan dengan ketekunan,”kata Rudi kepada lampungterkini.id saat dilokasi, Minggu (13/2/2022).

Menurutnya, selama ikan patin masih banyak dikonsumsi orang, maka secara otomatis target pasarnya pun semakin luas atau banyak.

Rudi menceritakan, sebelum budidaya ikan patin, awalnya Ia berjualan pakan ikan baik itu pakan dari hasil olahannya sendiri maupun dari pabrik. Selain memiliki kios pakan ikan di rumahnya, Rudi juga jual pakan ikan keliling menggunakan sepeda motor di wilayahnya bahkan sampai ke luar daerah Lampung Selatan.

Kemudian ia beralih menjadi peternak ikan patin sendiri, karena saat itu banyak pembudidaya ikan air tawar yang gulung tikar alias bangkrut akibat dampak dari pandemi Covid-19.

“Saat itu saya berfikir, daripada pakan ikan yang saya jual terbuang percuma tidak terjual karena banyak peternak ikan yang bangkrut akibat Covid-19. Akhirnya, saya coba budidaya ikan patin dan saya gunakan sendiri pakannya,”kata bapak satu orang anak ini.

Sebelumnya, kata Rudi, Ia hanya memiliki 2 kolam saja ketika awal mula menekuni usaha budidaya ikan patin. Namun saat ini, Ia memiliki 19 kolam dilahan seluas 2 hektar miliknya sendiri yang dibeli dari hasil budidaya ikan patin yang ditekuninya saat ini. Untuk memenuhi kebutuhan air di 19 kolamnya itu, Rudi menyiapkan sumur bor yang ditempatkan di tiga titik.

Di lahan seluas 2 hektar ini, kolam dibuat berbeda ukuran. Untuk lahan seluas 1 hektar dibuat 14 kolam, ukuran kolam rata-rata 15 meter x 20 meter dan masing-masing kolam diisi 5.000 ikan. Sedangkan lahan 1 hektar lagi, dibuat 5 kolam dengan ukuran 50 meter x 30 meter dan masing-masing kolam diisi 17.000 ikan.

“Dari 19 kolam itu, bisa menghasilkan kapasitas produksi (panen) ikan patin mencapai 100 ton. Ikan bisa dipanen enam bulan sekali, dan dipanennya tidak langsung semua tapi berkelanjutan. Kalau dipanennya sekaligus, tidak akan rampung dalam sehari,”kata pria lulusan sekolah SMP di Kecamatan Jati Agung ini.

Meski dalam kondisi situasi pandemi Covid-19, justru membawa berkah tersendiri bagi Rudi menekuni usaha budidaya ikan patin. Takmain-main, dari usahanya itu Rudi bisa cuan atau meraup keuntungan hingga ratusan juta.

“Modal yang dikeluarkan untuk 19 kolam mulai dari bibit ikan, pakan, upah pekerja dan lainnya Rp. 700 juta. Pekerja ada 11 orang, sistem bayarnya tonase. Setelah panen, omzet yang saya dapat Rp 1,2 miliar dan keuntungan bersih yang saya dapat Rp. 500 juta lebih,”terangnya.

Ikan Dikirim ke PT.CPB Karawang

Ikan patin budidayanya ini, lanjut Rudi, dikirim ke PT. Central Pertiwi Bahari (PT. CPB) Karawang, Jawa Barat dengan harga Rp 16 ribu/Kg. Sebelum dikirim ke PT. CPB, ikan dilakukan penyembelihan terlebih dulu untuk dikeluarkan darahnya dan dimasukkan ke bak penampungan berisi air bersih. Hal ini supaya dipilet diperusahaan, ikan benar-benar bersih atau tidak ada darahnya lagi. Selanjutnya, ikan diberi es batu saat proses pengiriman.

“Pengiriman ikan atau masuk pilet ke pabrik PT.CPB, usia ikan enam bulan dengan bobot ikan 7 ons. Tapi untuk pasar lokalan, usia 4 bulan dan bobot ikan 4-5 ons bisa di panen. Sekali angkutan untuk dikirim di perusahaan PT CPB, sebanyak 5 ton 7 kuintal ikan menggunakan kendaraan truk,”ungkapnya.

Dikatakannya, selain dikirim ke perusahaan, ikan patin hasil budidaya ini juga dijual ke sejumlah pasar lokal di beberapa wilayah di Lampung dan mayoritas pembeli yang datang sendiri untuk mengambilnya.

Mengenai resiko membudidaya ikan patin, kata Rudi, terbilang kecil jika dibandingkan budidaya ikan air tawar lainnya seperti lele misalnya. Proses pemeliharannya cukup gampang, karena begitu bibit ikan patin ini ditebar hingga panen, tidak perlu pemijahan. Selain itu jika telat memberikan pakan, tidak ada resiko kematian pada ikan patin namun hanya bobot ikannya saja yang berkurang.

“Dalam sehari, Ikan patin diberi makan dua kali yakni pagi dan sore. Pakan yang dihabiskan untuk 19 kolam mulai dari ikan ditebar hingga siap dipanen, menghabiskan sekitar 200 ton pakan,”ujarnya.

Namun yang dikhawatirkan, kata Rudi, jika datang musim penghujan. Ikan akan mengalami stres dan mati, akibat dari zat asam yang naik setelah turun hujan. Untuk menanggulanginya kolam harus ditabur dengan garam, hal tersebut untuk mengurangi tingginya zat asam dalam air kolam tersebut.

“Jadi untuk mengurangi zat asamnya akibat itensitas curah hujan, kolam ditabur garam. Satu kolam butuh tiga bungkus atau 1 Kg garam, dan ditaburnya hanya sekali saja yakni setelah hujan reda. Untuk 19 kolam ini, menghabiskan sekitar 15 Kg garam,”kata dia.

Rudi Buat Pakan Olahan Sendiri

Untuk memenuhi kebutuhan pakan ikan patin di 19 kolam miliknya, Rudi berinovasi membuat pakan (pellet) ikan hasil olahan sendiri. Dengan mesin modifikasi buatannya yakni menggunakan mesin Diesel 11 PK, Rudi membuat pakan secara mandiri dari bahan campurann ikan asin sudah tidak dikonsumsi lagi, bekatul (dedak halus), sentrat, tepung kedelai dan bungkil kelapa.

Pembuatan olahan pakan ikan patin

Langkah ini dilakukan Rudi, sebagai salah satu cara efesiensi menekan biaya dalam membudidaya ikan. Proses pembuatan pakannya pun tergolong tidak begitu sulit, cukup dengan bantuan mesin. Pengolahan pakan itu, dikerjakan di gudang miliknya yang berada tidak jauh dari rumahnya dan di lokasi lahan kolam miliknya.

Dalam budidaya ikan patin, biaya pakan berkontribusi besar tentuya pada pengeluaran hingga mencapai 50 persen lebih dari total biaya operasional. Rudi bisa dibilang sebagai pionir bagi pembudidaya ikan di Kecamatan Jati Agung maupun di Lampung Selatan yang membuat pakan ikan patin olahan sendiri.

Rudi mengatakan, untuk menekan biaya atau efesiensi dalam budidaya ikan patin, Ia membuat pakan olahan sendiri dengan bahan ikan asin, bekatul, sentrat, tepung kedelai dan bungkil kelapa. Sebelum diproses, semua bahan itu dicampur dan diaduk hingga merata. Setelah itu, baru dimasukkan ke wadah kotak yang terbuat dari papan diatas mesin pengolahan pakan.

“Pakan bahan campuran itu, dimasukkan ke dalam lubang mesin dan keluar dalam bentuk butiran kecil-kecil dan setelah itu pakan sudah siap atau bisa digunakan,”ujarnya.

Untuk kebutuhan pakan ikan di 19 kolam miliknya, kata Rudi, sekali buat pakan 2 ton setiap harinya. Dalam sehari, sekitar 1 ton 1 kwintal untuk memberikan makan ikan patin di 19 kolam miliknya. Rudi meyakini, selama memanfaatkan mesin pembuat pakan ini, tentunya membuat dirinya sangat terbantu yakni dari sisi financial biaya pengeluaran untuk pakan ikan.

“Kalau beli pakan ikan buatan pabrik, harganya memang mahal Rp 10.500/Kg. Sementara pakan buatan sendiri pakai mesin ini, saya jual Rp 5.000/Kg. Yang jelas biaya yang dikeluarkan tidak mahal, tentunya bisa menekan biaya budidaya ikan patin,”ungkapnya.

Selain digunakan sendiri, lanjut Rudi, pakan ikan patin hasil olahannya ini dijual ke pembudidaya ikan patin di sekitar wilyahnya (Lampung Selatan) dan ke beberapa wilayah di Lampung. Selain itu, Ia juga menerima pesanan pakan dari konsumen yang berada di luar daerah Lampung. Bahkan belum lama ini, Ia baru menerima pesanan pakan dari daerah Blitang, Sumatera Selatan sebanyak 10 ton pakan.

“Untuk memenuhi kebutuhan konsumen, setiap hari saya memproduksi pakan 7 kuintal (700 Kg) dalam sehari. Meski pakan hasil olahan sendiri, tapi kualitas dan kandungan nutrisi pakan buatan ini tidak kalah dengan pakan yang mahal buatan pabrik,”kata dia.

Dari hasil budidaya ikan patin yang digelutinya, Rudi bisa mendapat keuntungan mencapai ratusan juta. Belum lagi dari hasil penjulan pakan olahannya sendiri, tentunya memberikan kontribusi pendapatannya mencapai puluhan juta.

“Mengenai omzet yang saya dapat dari jual pakan olahan sendiri ini, alhamdulillah mas dan cukup lumayan. Dalam sebulan ya bisa jutaan lah omzetnya,”tandasnya. (Her/Ndi/Red).

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

No More Posts Available.

No more pages to load.