Alami Jantung Bocor Belasan Tahun, Sulis Warga Sukabanjar Butuh Uluran Tangan

by -2,091 views
Sulis Setioningsih (28) penderita jantung bocor ditemani ibunya, Pertiwi (55) terbaring lemah diatas kasur di rumahnya di Desa Sukabanjar, Kecamatan Sidomulyo, Lampung Selatan. (Foto: Slamet)

LAMPUNG SELATAN–Seorang remaja bernama Sulis Setioningsih (28) putri ke tiga dari Sukatno (56) dan Pertiwi (55), warga Desa Sukabanjar Kecamatan Sidomulyo, Lampung Selatan hanya terbaring lemah tak berdaya diatas kasur lantaran didiagnosa memiliki penyakit jantung bocor yang dideritanya sejak masih berusia 13 tahun dan terpaksa ia harus bolak-balik masuk ke Rumah Sakit.

Melihat kondisi anaknya yang sejak kecil hingga sudah dewasa mengalami sakit selama belasan tahun, kedua orangtuanya mengaku kerap teriris hatinya ketika melihat putri ke tiganya yang menderita sakit didiagnosa jantung bocor tak kunjung sembuh meski segala upaya sudah dilakukannya.

Biaya pengobatan yang mahal, memaksa kedua orangtuanya menjual tanah serta rumah yang menjadi tempat tinggalnya selama ini. Namun penyakit yang diderita Sulis tidak kunjung sembuh, bahkan kondisi inipun membuat Sulis harus putus sekolah di bangku sekolah SMPN 1 Sidomulyo.

Karena sudah tidak memiliki tempat tinggal lagi, akhirnya Sulis yang merupakan putri ketiga dari empat saudara ini bersama kedua orangtuanya saat ini tinggal di kediaman kakak perempuan pertamanya di Desa Sukabanjar, Kecamatan Sidomulyo. Saat ini Sulis dan keluarganya hanya bisa berdoa dan berharap, ada perhatian dari pemerintah dan uluran tangan dari para dermawan.

Sejak mengalami sakit Jantung bocor yang dialaminya selama belasan tahun ini, penyakit yang diderita Sulis justru semakin parah dan kondisinya semakin lemah sejak lima tahun belakangan ini bahkan Sulis sudah tidak dapat berjalan lagi karena kedua kakiya mengalami pembengkakan.

Saat lampungterkini.com mencoba berkunjung ke kediamannya di Desa Sukabanjar, Jumat (7/2/2020) Sulis ditemani ibunya, Pertiwi (55) dan kakak perempuannya, Kresna Widi Astuti (32) hanya terbaring lemah tak berdaya diatas kasur sejak lima tahun belakangan ini. Raut wajah Sulis tampak putih pucat pasi, kondisi tubuhnya semakin kurus. Meski sudah dewasa, tapi raut wajahnya masih seperti anak usia belia.

“Sudah lima tahun ini sudah tidak bisa apa-apa, ya hanya terbaring saja diatas kasur. Entah dari mana lagi dan mau bicara apa lagi saya ini mas, rasanya air mata saya ini sudah habis. Begitu juga ayahnya saat pulang dari bekerja sebagai sopir, haya bisa memeluk Sulis sembari menangis,”kata Pertiwi (55) ibunda Sulis kepada lampungterkini.com.

Pertiwi menceritakan, untuk membiayai pengobatan putrinya yang alami jantung bocor sejak usinya masih kecil hingga dewasa ini, ia sudah tidak memiliki apa-apa lagi. Tanah beserta rumah miliknya yang ada di Desa Seloretno dan Desa Budidaya, sudah habis dijual semua untuk membiayai pengobatan putrinya.

“Sejak usia 13 tahun Sulis alami sakit jantung bocor, saat itu baru-barunya masuk sekolah SMP. Tapi saat itu Sulis masih bisa jalan, kalau sekarang ini sejak lima tahun belakangan ini sudah tidak bisa apa-apa hanya berbaring saja di tempat tidur,”ujarnya.

Sulis Setioningsih (28) penderita jantung bocor, warga Desa Sukabanjar, Kecamatan Sidomulyo, Lampung Selatan Raut wajahnya tampak putih pucat pasi dan kondisi tubuhnya semakin kurus dan lemah tak berdaya sejak lima tahun belakangan ini. (Foto: Slamet)

Dikatakannya, putrinya Sulis ini, pada saat lahir dalam keadaan prematur selain itu juga tidak memiliki lubung anus. Kemudian dilakukan operasi di Rumah Sakit Umum Abdul Moeloek (RSUAM), akhirnya Sulis dapat bermain lagi bersama keluarga dan temannya secara normal tanpa mengeluhkan penyakit.

“Setelah dua tahun pasca operasi, kondisi anak saya ini mengalami kelemahan saat itu saya konsultasi ke RSUAM lagi. Saat itu saya bertanya ‘Dok anak saya kondisinya makin hari kondisinya kok lemah ya’ lalu kata Dokter menjawab, ‘Tidak apa-apa itu haya lemah jantung aja’,”ucapnya dengan mata berkaca-kaca.

Saat masuk sekolah di SMP Negri 1 Sidomulyo, kata Pertiwi, ia mengatakan ke pihak sekolah mengenai kondisi putrinya dan meminta adanya perhatian khusus. Baru masuk satu semester, kondisinya semakin drop mungkin karena bayaknya aktifitas disekolah. Sejak saat itulah Sulis sering masuk ke Rumah Sakit, hingga akhirnya harus berhenti dari sekolah.

“Saat itu ada yang menyarankan ke saya, untuk mencoba memeriksakan putri saya ke dokter spesialis jantung di wilayah Garuntang Bandarlampung. Setelah diperiksa, dokter menyimpulkan kalau putri saya didiagnosa positif jantung bocor,”ungkapnya sembari sesekali menyeka air matanya.

Pada saat itulah, perhatiannya terhadap kondisi Sulis semakin intensif dengan melakukan pengobatan ke beberapa Rumah Sakit di Bandarlampung seperti Rumah Sakit Abdul Moeloek (RSUAM), Graha Husada dan Bumi Waras dan hampir setiap bulan kami harus bolak-balik ke Rumah Sakit. Bahkan putrinya juga, pernah dirawat di Rumah Sakit Jantung Harapan Kita Jakarta dengan harapan bisa sembuh.

“Dirawat di RS Jantung Harapan Kita selama 3,5 bulan saat usia Sulis 17 tahun, alhamdulilah saat itu berobatnya masih pakai Jamkesmas dan saat itu ada 9 orang tim dokter yang menanganinya,”kata dia.

Setelah 3,5 bulan dilakukan perawatan, kata Pertiwi, ia disarankan oleh tim dokter RS Jantung Harapan Kita untuk pulang terlebih dulu nanti akan dikabari hasilnya. Setibanya di Rumhanya, keesokan harinya mendapat kabar melalui sambungan telpon dari salah satu tim dokter kalau putrinya tersebut tidak bisa dilakukan tindak lanjut.

“Tim dokter itu bilang tidak bisa dilanjutkan, kalau dilanjutkan bisa fatal karena kesuksesanya hanya sekitar 10 persen saja. sejak dari situlah, saya dan suami merasa bingung harus kemana lagi akhirnya kami memutuskan mencoba mengobatinya ke jalur alternative hingga sekarang ini,”terangnya.

Pengotabatannya terhenti sejak tahun 2018 lalu, lantaran BPJS mandiri yang dimilikinya sudah terhenti pembayarannya karena sudah tidak memiliki biaya lagi.

“Sudah tidak mampu lagi bayar BPJS, karena sama sekali sudah tidak punya uang dan semuanya sudah habis terjual demi pengobatan putri saya ini dan akhirnya sekarang ini semua pengobatannya terhenti. Pengobatannya, saat ini hanya melalui alternatif dengan harapan anak kami bisa sembuh”ucapnya.

Saat ini, ia berharap uluran tangan para dermawan dan adanya perhatian dari pemerintah agar supaya bisa melanjutkan pengobatan putri ketiganya tersebut, karena masih terus mengeluhkan sakit setiap harinya ditambah lagi ia sudah tidak memiliki apa-apalagi untuk membiayai pengobatan putrinya.

“Kalau pas lagi kumat sakit jantungnya, nafasnya sesak dan sampai sekarang masih bergantung dengan oksigen. Saya berharap sekali, ada bantuan dari pemerintah maupun para dermawan yang peduli atas penyakit yang dialami putri saya ini,”pungkasnya. (Met)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

No More Posts Available.

No more pages to load.