Sejak Tahun 1974, Mbah Maniyem Tetap Bertahan Geluti Kerajinan Anyaman Bambu

by -354 views
Mbah Maniyem (56) tetap bertahan menggeluti usaha sebagai perajin perabot rumah tangga dari ayaman bilah bambu, meski ditengah gempuran perabot rumah tangga berbahan berbahan plastik, stainless ataupun lainnya. (Foto: Slamet)

#Kerajinan turun temurun yang ramah lingkungan

LAMPUNG SELATAN— Ditengah gempuran perabot rumah  tangga berbahan berbahan plastik, stainless ataupun lainnya yang banyak dipasaran. Namun Mbah Maniyem (56), warga Dusun Ponorogo, Desa Sidorejo, Kecamatan Sidomulyo, Lampung Selatan ini masih tetap bertahan menggeluti usaha sebagai perajin perabot rumah tangga dari ayaman bilah bambu sejak tahun 1974 hingga sekarang ini.

Pohon bambu  yang selama ini identik dengan bahan baku pembuatan rumah ataupun bangunan, tapi ditangan kreatif Mbah Maniyem bambu ‘disulap’ jadi kerajinan bernilai jual ekonomis dan pastinya berdampak baik bagi lingkungan untuk mengurangi sampah plastik.

Saat media lampungterkini.com berkunjung ke kediaman Mbah Maniyem, Sabtu (1/2/2020) siang, ternyata nenek 56 tahun ini sedang melakukan kegiatan di samping halaman rumahnya bersma anak perempuannya bernama Yulianti (26) menganyam bilah bambu untuk dijadikan wadah perabot rumah tangga berupa tompo.

Selain membuat perabot rumah tangga dari anyaman bambu berupa tompo, Mbah Maniyem juga membuat ayaman bambu lainnya seperti Besek, penampi beras (tampah) penutup kepala (caping) serta Bakul (Rinjing).

Meski diusianya yang sudah tidak lagi muda, namun tangan Mbah Maniyem masih cekatan menganyam bilah bambu jenis apus yang akan dijadikan tompo yang sudah dipesan konsumen ataupun tengkulak. Dengan cepat, tumpukan bilah bambu yang ada di sampingnya itu selesai dianyam menjadi wadah tompo.

“Potongan bilah bambu yang sudah diirat (ditipiskan) ini, mau dianyam dibuat wadah perabot rumah tangga namanya tompo,” kata Mbah Maniyem kepada lampungterkini.com sembari menganyam bilah bambu.

Saat diajak bertanya-tanya, Mbah Maniyem tanpa harus melihat lipatan-lipatan anyaman bambu yang ia kerjakan, masih tetap bisa membuat wadah tompo dengan cepat. Tompo ini, kata dia, biasanya untuk mencuci beras. Tapi bisa juga untuk wadah lainnya seperti menyimpan bumbu-bumbu dapur dan bisa juga untuk menaruh buah  serta jajanan tradisional seperti tape singkong.

“Semua bahan mulai dari mencari, memotong, membelah dan meyirat (menipisi) bambu sampai siap dianyam yang mengerjakan suami saya, kalau saya hanya tinggal menganyamnya saja. Mulai buatnya, setelah pekerjaan rumah sudah selesai mas sembari mengisi waktu luang siang,”kata dia.

Selain dirinya, bahkan anak perempuannya juga terlihat begitu lincah menganyam bilah bambu yang akan dijadikan wadah tompo.

Mbah Maniyem (56) dan anak perempuannya, Yulianti (26) menganyam bilah bambu untuk dijadikan perabot rumah tangga berupa tompo di samping halaman rumahnya di Dusun Ponorogo, Desa Sidorejo, Kecamatan Sidomulyo, Lampung Selatan. (foto: Slamet)

Mbah Maniyem menceritakan, memiliki keahlian membuat kerajinan perabot rumah tangga yang dianyam dari bilah bambu ini, diperolehnya dari orangtuanya di Jawa Timur yang memang sebagai perajin. Ia menekuni kerajinan ini, sebelum menikah hingga menikah dengan Dangun, suaminya yang juga sebagai pelaku kerajinan bambu.

Berbekal keterampilan yang dimilikinya itu, ia mengikuti suaminya meninggalkan Pulau Jawa merantau ke Pulau Sumatera yakni di Dusun Ponorogo, Desa Sidorejo, Lampung Selatan hingga memiliki beberapa orang anak serta cucu dan tetap setia menekuni kerajinan tersebut.

“Pekerjaan menganyam bambu ini, saya tekuni sejak tahun 1974 lalu saat saya belum menikah sampai menikah hingga punya anak dan cucu sekarang ini. Kerajinan ini warisan turun temurun dari orangtua saya, alhamdulilah mas meski hasilnya sedikit bisa untuk kebutuhan sehari-hari,”ungkapnya.

Selain karena biasa dan terampil, Mbah Maniyem mengaku kerajinan dari bambu ini merupakan tradisi budaya sejak dari nenek moyang kita dulu dan tidak ingin hilang begitu saja apalagi terputus ke generasi selanjutnya dan tergerus kemajuan zaman.

Dikatakannya, satu batang bambu kalau dibuat wadah tompo, bisa dapat 20 tompo. Sementara modal yang dibutuhkan untuk membeli satu batang bamboo, sebesar Rp 5.000 serta tali Rp 4.000. Kalau untuk proses pembuatannya, mulai awal dari bahan sampai dianyam jadi tompo seperti ini memakan waktu 2-3 hari.

“Selain membuat perabot rumah tangga berupa tompo, saya dan suami buat ayaman bambu lainnya seperti Besek, penampi beras atau bahasanya jawanya disebut “Tampah”, penutup kepala “Caping”  serta Bakul “Rinjing”. Tapi yang menganyam tampah sama rinjing, itu suami yang kerjakan,”ujarnya.

Membuat wadah tompo, dalam sehari ia dapat menyelesaikan 50 wadah tompo. Hasil kerajinan yang dibuatnya, dijualnya sendiri ke Pasar Sidomulyo. Selain itu juga, ada yang dibeli langsung sama pengepul atau agen dari daerah Kecamatan Way Panji dan Palas.

“Biasanya yang dibeli sama pengepul tidak hanya tompo saja, tapi lainnya juga seperti tampah, besek dan rinjing jumlahnya masing- masing sekitar 10-15 jenis kerajinan yang dibawa. Untuk kerajinan tompo dijualnya Rp 5.000/bijinya, bakul (rinjing) Rp 20 ribu dan penampi beras (tampah) Rp 10 ribu,”terangnya.

Menurutnya, di wilayah tempat tinggalnya di Dusun Ponorogo, Desa Sidorejo ini, dulunya banyak yang membuat kerajinan anyaman bambu. Kerajinan yang dibuat juga banyak macamnya, tidak hanya tompo, besek, tampah dan rinjing saja melainkan caping, kandang burung, kurungan ayam, bilik (geribik) serta lainnya.

Seiring perkembangan zaman, serta banyak masyarakat yang menggunakan bahan perabot rumah tangga dari plastik, sehingga kerajinan dari bambu mulai sepi dan ditinggalkan peminatnya akhirnya banyak dari mereka (perajin) beralih profesi pekerjaan lain.

“Dulu warga di Dusun Ponorogo ini, manyoritas menekuni kerajinan mengayam bambu. Tapi sekarang ini, hanya tinggal keluarga saya dan beberapa orang saja di Ponorogo ini yang masih tetap bertahan menekuni kerajinan dari bambu ini,”kata dia.

Mbah Maniyem mengaku, menganyam bilah bambu menjadi barang perabot rumah tangga, sudah menjadi rutinitasnya. Sangat tidak mudah memang untuk terus menjaga, dan melestarikan kerajinan warisan budaya kita ini apalagi sekarang ini banyak orang menggunakan perabot rumah tangga berbahan plastik.

“Yang dibutuhkan seperti kami ini, ya diperhatikan sama pemerintah. Syukur-syukurkalau ada bantuan untuk perajin kecil seperti kami agar bisa tetap bertahan dan terus berkembang usahanya,”pungkasnya.

Tompo hasil kerajinan Mbah Maniyem (56) sudah selesai dianyam dan siap untuk dijual. (Foto: Slamet)

Sementara Yulianti (26) anak dari Mbah Maniyem menuturkan, menekuni kerajinan dari ayaman bambu sejak menikah atau baru sekitar 4 tahun ini, dari menekuni usaha ini bisa membantu untuk menopang kebutuhan ekonomi rumah tangganya.

“Saya bersyukur sekali  bisa mengayam bambu setelah diajari sama ibu, dan Alhamdulilah bisa untuk menambah penghasilan sehari-hari serta untuk biaya sekolah anak,”ujarnya.

Untuk pemasaran kerajinan dari bambu ini, kata Yuli, sedikit mengalami kesulitan. Kalau dulu banyak peminatnya, tapi sekarang ini sudah berkurang karena pindah ke bahan plastik semua yang katanya bahan plastik lebih praktis. Bukan mengapa, masyarakat harusnya supaya lebih menghargai lingkungan menggunakan wadah dari anyaman bambu justru ramah lingkungan jika dibadingkan bahan dari plastik.

“Harapannya, pemerintah memperhatikan pengrajin-pengrajin kecil seperti kami. Katanya yang saya dengar, bahan yang menggunakan plastik akan di kurangi sama pemerintah. Ya mudah-mudahan saja, bahan kerajinan dari bambu ini bisa laku dan diminiti banyak orang seperti dulu lagi,”kata dia. (Met/Z4s)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

No More Posts Available.

No more pages to load.